Film Dilan 1990 Biasa Saja, Tapi Aku Menikmatinya. Tidak Tahu Sekuel Selanjutnya, Tunggu Aja!

Dengan sedikit maksa atawa nekat, malam minggu kemarin, aku putuskan untuk nonton film yang sedang menyeruak heboh dikalangan warganet ini. Apalagi kalau bukan DILAN 1990. Rencananya aku cuma mau berangkat berdua dengan sahabat yang tentunya juga jomblo, namun apalah daya sang hujan selalu mengikuti. Malam minggu, 2 jomblo dan hujan. Sudah seperti drama saja. Untunglah secuil mantel hujan bisa dibuat ampet-ampet guyuran hujan kala itu. Syahdu, se-mantel berdua. 

Sama temen dulu, nanti sama kamu. Ini tawaran, bukan ramalan. Insyaalloh.

Alhamdulillah kami masih kebagihan tiket tayang jam 19.30, walaupun kebagihan kursi yang kurang nyaman untuk memandang. Syukuri saja.


Murah meriah di PCC

O.......iya! kebetulan sebentar sebelum film  dimulai, temenku bertemu temenya yang juga ditemani seorang teman mungkin? Atau, itu cewenya. bodoamat. Kebetulan lagi, temennya temenku yang bawa temen cewe itu juga ngeblog. Kami sempat cakap-cakap ringan tentang blog.

Oke langsung ke filmnya>>>

Diawali dengan narasi seorang Milea dengan segala tetek bengeknya. Sementara temenku celigak-celinguk kiri-kanan depan-belekang, lantas berkata “belum ada!” tentu saja yang dia amati adalah pasangan kekasih yang barangkali malam minggu ini seperti kebanyakan itulah, masa gak tahu.

Oke aku menikmati film ini, dari Dilan yang tiba-tiba menghampiri Milea, meramal akan bertemu dikantin dan ternyata salah. Meramal lagi bahwa besok akan bertemu, padahal besok hari minggu. Ternyata walaupun hari minggu Dilan benar-benar menemui milea. Bukan disekolah, namun di rumah milea. Kita tahu bahwa dilan ini adalah peramal amatiran yang berusaha keras dapetin Milea. Dan yang membuat Milea tertarik padanya, bukan karena ramalan-ramalannya. Tapi karena cara unik dilan ketika mendekati Milea. Eh...ini juga termasuk ramalan-ramalannya ya!?

aku juga menikmati berbagai kejenakaan Dilan yang Pidi Baiq-able banget, yang tersaji di banyak scane pada film tersebut. Beberapa kali temenku masih celingukan. Dan tetap berkata “belum ada!”

Intinya, Milea yang awalnya judes sama Dilan, akhirnya terbuai juga dengan sikap Dilan yang unik ini. Gombalan Dilan sederhana, namun sangat mengena. Merekapun sering bersama, jalan-jalan, makan. Akhirnya jadian, ditandai dengan surat pernyataan Dilan yang dibuat sedemikian rupa menyerupai teks proklamasi, dan ditanda tangani Dilan dan Milea. Udah gitu saja. 

Saya gabisa nulis detailnya, berat. Yang baca gak akan kuat. Biar nonton filmnya saja.

Ceritanya ngalir, dan aku tak begitu banyak mengingat detailnya. Yang banyak ku ingat malah adegan jenaka yang membuat satu theater tertawa. Seperti waktu Dilan dan Milea jalan-jalan pakai motor, tiba-tiba Dilan nunjuk pohon sembari memberi tahu milea kalau itu namanya pohon. Nunjuk langit, dan melakukan hal yang sama. Nunjuk orang jualan es campur, dan asal manggil kalau itu Mang Ujang. Kemudian juga waktu jalan-jalan dilan dan milea sambung-sambung kata ( yang itu loh... yang akhirannya sakit perut). Juga, pas Milea dikasih sebuah kerupuk oleh Dilan di warung bakso. Disini kita dapat belajar, bahwa adakalanya secuil kerupuk yang dibungkus kresek besar,  itu lebih berarti daripada coklat, Cungky Bar. Atau bisa kita katakan, yang ngasih bunga maupun boneka besar, bakalan kalah sama yang ngasih TTS dan kerupuk yang keduanya dibungkus pakai plastik hitam-putih besar. Pokoknya kalau kamu nonton filmnya, pasti ngakak pas scene ini. Ada baper-bapernya juga sih!


[Gambar dari sini] suer! gw kagak kaya gini pas dibonceng temen gw
Jika disuruh kasih nilai, 80 lah untuk film ini. Film ini biasa saja, gak bagus banget. Dikatakan akan sangat membuat baper, juga tidak terlalu. Masih mbaperi Drama Korea. Lalu, jalan ceritanya datar. Belum ada klimaks yang katakanlah menanjak. Memang dari novelnya juga demikian kan? Trus juga, film ini seperti tergesa-gesa kesannya. Cepat. Juga lebih mirip ke drama musikal sih. Karena, hampir setiap scene ada Dilan, ada Milea, ada Dilan dan Milea, di sekolah, di rumah, di jalan, ada Dilan dan Milea di sekolah, di rumah dan di jalan.  

Namun jangan katakan kalian wahai kawula muda, untuk tidak menonton film ini. Karena besoknya kalian akan nyesel dech!

Film selesai! Dan kami pulang. Keramaian malam minggu sudah tidak terlihat kala itu. Mungkin juga karena hujan yang tadi menerpa. Tiba-tiba saja, di jalan sekitaran jenangan, temenku yang bawa motor manggil-manggil, “bro....bro!”

“Apa?” jawabku kuatir kalau-kalau ada sesuatu yang menakutkan. Malam pula.

“Itu pohon, itu langit, itu tiang listrik!”


"Anjay, nampaknya sudah ketularan Dilan ini bocah!"


[Artikel ini hanyalah analisa asal-asalan saya saja. Karena saya orang bodoh yang suka berkomentar. Seperti kebanyakan warganet]


21 Responses to "Film Dilan 1990 Biasa Saja, Tapi Aku Menikmatinya. Tidak Tahu Sekuel Selanjutnya, Tunggu Aja!"

  1. Wahhhh makin baper nih
    Harus nonton weekend besok

    BalasHapus
  2. Dilakan saja kak.....
    Sebelum terlambat hehe

    BalasHapus
  3. Keren filmnya, saya sudah nonton

    BalasHapus
  4. nice artikel, kunjungan dari softkini.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank.....
      Insyaalloh aku kunjungi balik

      Hapus
  5. oke broo, kunjungan balik yaa https://ipungberjuang.blogspot.com jangan lupa klik cendolnya gan..

    BalasHapus
  6. hahaha :v.. film dilan, aku gak nonton, soalnya gak kuat, kamu aja :v

    BalasHapus
  7. nunggu yg gratisan hahaha. teknosmurf.blogspot.com

    BalasHapus
  8. wkwkwkwk :v... gua nunggu yang versi komedinya

    BalasHapus
  9. Hahaha milea cakep ya gan :)

    BalasHapus
  10. kalo menurutku lebih bagusan film Eiffel... I'm in Love berkali lipat. lebih dapet aja feel-nya. mungkin karena semua pemeran-pemerannya masih baru kali, ya. tapi, gak cuma itu cinematografinya juga masih kurang dan ceritanya plek bgt sama di buku jadi kalo yg udah baca bukunya kaya aku jadi gak ada kejutannya lagi soalnya persis sama gak ada yg beda. itu menurut pendapatku ya jadi maaf buat para penggemar Dilan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akusih gak maniak sih sama Dilan ini. Betul juga kata mba nya ini. Apalagi pas scene Milea di supirin mamanya Dilan. CGI nya receh

      Hapus
  11. wahahahaaaa. lucu nih reviewnya. Aku malah salah fokus sama komen mas Rizal yang bilang lebih mbaperi drama korea. Wuih, masnya juga suka nonton drakor juga ya kayanyaaaa.. Hihihiii

    BalasHapus
  12. Pengen Nulis tentang film dilan juga, tapi belum nonton. cuma baca bukunya itupun pdfnya.
    sudahlah besok kalau sudah ketemu pidi baiq di bandung tak tulis dilan itu kalau dangdutan dimana. tak tanyain sama Pidi baiq, pie gan, melok ora?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...gud gan.
      Boleh-boleh ikut hehehe

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel