Hujan Pertama Dini Hari



Malam ini tidak seperti biasa. Rembulan yang tubuhnya mulai sabit juga tidak seperti biasa. Kemarin malam, lusa malam, dan malam-malam sebelumnya Rembulan selalu terlihat berendam di telaga. Mengapung dalam dinginnya air malam, sementara cahayanya melebur keemasan.

Rupanya malam ini, Rembulan sedang tiduran malas di kayangan. Berselimut awan kelabu, kumal, yang sepertinya menghangatkan. Penghuni telaga yang tidak tahu menahu soal itu, tentu saja heran.

“Bukankah malam ini belum waktunya tanggal baru?” kata seekor ikan penuh keheranan.

“Malam ini memang belum,” Sahut yang lainya.

“Lalu bagaimana bisa, Rembulan tidak berendam di telaga, apa dia lupa, atau apa dia sedang malas turun?”

“Mungkin saja Rembulan pergi ke telaga yang lebih besar, dan lebih indah. Atau mungkin dia sedang berselancar di lautan. Atau mungkin juga sedang jalan dengan kekasihnya.”

“Mungkinkah?”

“Mungkin. Bukankah segala sesuatu bisa mungkin? Sudahlah lebih baik malam ini kita tidur yang nyenyak saja. Barangkali rembulan esok akan datang lagi dengan alasannya.”

“Ah.... tidur. Mataku ini sulit terpejam.”

“Dasar......mata ikan.”

Air telaga malam ini benar-benar gelap, hanya riak air meraih bibir telaga saja yang terdengar, itupun hanya terdengar, tanpa terlihat.

Mendekati dini hari, butir-butir kecil air turun ke bumi dalam gerimis. Hujan bersamanya, bersama gerimis, turun menyatu dengan air telaga, menyesaki jalanan, membasahi tanaman, pohon-pohon, serta rerumputan yang mulai semu kuning. Ini adalah pertama kalinya hujan turun lagi ke kampung Lungur  Buntung, setelah beberapa waktu yang sebenarnya tiada terlalu lama. Enam bulan barangkali, atau tujuh, tujuh setengah bulanan kira-kira.

Hujan senang bukan kepalang kali ini. Betapa tidak? Selama masa kemarau lalu, ada seorang pemuda, gagah, rupawan, dan giat bekerja, yang selalu merindukan hujan. Kerinduannya begitu tulus, tiada yang lebih tulus darinya perihal kerinduan terhadap hujan, barangkali. Mungkin saja pemuda itu juga mencintai hujan. Sangat mencintai. Setiap hari, kurang lebih sampai tiga kali dalam sehari, pemuda pemilik puluhan kambing dan macam-macam tanaman tersebut, selalu berdo’a meminta hujan. Begitu yang diketahui hujan dari Mikail si pembagi rezeki.

Malam itu, Hujan berkeliling. Menyusuri sudut-sudut pemukiman, gang-gang, kebun, hutan milik jawatan, melewati beberapa wanita separuh baya menggendong rinjing--berisi pisang, ada juga yang berisi singkong, dan gaplek yang dibungkus plastik merah besar--menuju Pasar Desa, adapula bapak-bapak yang memikul kelapa, yang berjalan lebih dibelakang. Orang-orang memang sering pergi ke pasar pagi-pagi sekali, bahkan dini hari. Andaikata mereka  kesiangan ke pasar, seringkali dagangan mereka tidak laku, atau dibeli murah pedagang kota. Sementara pedagang kota yang memiliki mobil ompreng itu, akan menjualnya lebih mahal di kota. Memang begitu adanya, para petani harus berjuang keras untuk imbal sesuap nasi.

Hujan melewati para pejalan kaki itu dengan isyarat simpul senyuman, hormat, serta maaf karena telah membuat basah. Tapi para pejalan kaki itu tidak melihatnya. Mereka hanya melihat hujan sebagai hujan, bukan yang lainnya. Dengan menutupi kepala mereka dengan daun lembeng, atau pisang, muka mereka malah nampak padam, dan sedikit kecewa dengan datangnya hujan kali ini. Padahal ini hujan pertama kali. Orang-orang memang terkadang begitu, lupa mensyukuri rahmat yang telah diberi.

Semakin pagi, dan hujan juga berada di sekeliling rumah pemuda yang selalu merindukannya itu. Air hujan mengguyur genteng, menggenangi pelataran, sampai mengalir ke selokan-selokan. Hujan semakin tidak sabar rasanya untuk segera melihat pemuda itu.

Tidak begitu lama, hujan masih saja asyik mengguyur semesta, dan pemuda itupun mulai membuka pintu rumahnya. Berjalan pelan menuju serambi. Kemudian melekatkan tubuhnya pada salah satu tiang serambi rumah. Mukanya sedikit masam dan hanya terdiam. pemuda itu terlihat tidak begitu bahagia, begitupun hujan yang juga mulai sedikit kecewa.

“Ah....hujan. kenapa hujan pertama harus datang sepagi ini?” keluh pemuda tersebut dalam hati. Pemuda tersebut terlihat sedikit kecewa, hujan lebih kecewa. Karena walaupun itu gumaman dalam hati, berkat izin-Nya hujan bisa mengetahui.

“ bagaimana aku akan pergi ngunduh Kapulaga? Bagaimana juga aku cari pakan kambing-kambingku? Belum juga bapak-ibuku pergi kepasar. Pasti mereka basah kuyup. Ah....hujan, tak tau diri.”

Hujan kini benar-benar kecewa. Namun, hujan tidak marah, pun membentak. Hujan tahu, semua itu tidak berhak adanya. Hujan meleleh, arinya semakin deras, juga angin yang datang mendoron-dorong rintikan hujan membasahi serambi. Pemuda itu mundur mepet ke tembok.

“Ah...manusia. memang suka lupa diri kalau sudah diberi. Bukankah selayaknya bersyukur sebagai rasa terima kasih atas rahmat-nya? Ah manusia, tak tau diri.” gumam hujan sembari pergi kembali ke kayangan.

Hujan benar-benar pergi, sementara rintikan airnya semakin deras mengguyur, angin, juga muncul guntur dan kilat melengkapi keadaan.


Njawol, 8 Januari 2018

6 Responses to "Hujan Pertama Dini Hari"

  1. Alur cerpennya bagus 👍

    Ada satu kalimat yang bikin mesem sendiri ngebacanya " Dasar ... mata ikan "
    Bener juga,yaaa ....... kalo diamati mata ikan itu ngga pernah merem , hahahaha 😃

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel