Njawol Teringat Kenangan

Jika berbicara kenangan tentu saja pikiran saya tertuju pada air hujan yang terkumpul di tanah yang berlesung pipit. Eh... itu genangan deng!

Berbicara kenangan tentu saja perlu konsentrasi dan meresapi, agar kita benar-benar merasakan kebaperan yang berlebih. Hal seperti ini sebaiknya tidak anda lakukan ketikan mengingat kenangan yang ada hubunganya dengan mantan, ditinggal rabi, dan lain sebagainya—bukan termasuk Jaran Goyang, Bojo Galak, Sayang, dan sebagainya itu. Ini beda konteks dan pembahasan. Sudahlah nanti saja kau putar lagumu itu—yang malah membuat hati anda seperti tergigit semut kecil. Tapi satu truck!

Begini, katakanlah tempat tinggal saya ini, Njawol, sekarang sedang duduk termenung, memandang hujan, dan dihadapkan segelas kopi capucinno dengan hiasan Rembulan tepat di tengah gelas, mengapung [mengacu dari cerpen Seno Gumira Ajidarma “Rembulan Dalam Capucinno”]. Lalu apa gerangan yang dilakukan Njawol? Tidak lain adalah mengingat kenangan masa lalu, sebelum kemajuan yang didapat seperti sekarang. Pun juga mengingat sekecil segala peristiwa yang telah menimpa di masa lalu.

Teringat waktu anak-anak  Sekolah Dasar, harus berjuang nyeker dari awalan masuk sekolah sampai tamat kelulusan. Jarak yang mereka tempuh kurang lebih 3 km, dengan rute berkelak-kelok, turun, turun, naik, dan naik. Baru bisa sampai rumah. Huuuft....capeknya. Zaman ini, seluruh akses menuju Njawol masih batu pasangan. Kami menyebutnya pradengan atau makadam. Buat anda yang tidak terbiasa berjalan telanjang kaki di atasnya bisa mengakibatan sakit yang tidak tertahankan. Bila sakit berlanjut sulit hubungi Dokter. Susah sinyal.

“Srupuuuut....eh!” secuil rembulan masuk ke kerongkongan Njawol.

Hutan melimpah ruah yang menjadi jalan rezeki para pemilik kambing. Bapak-papak paruh baya dengan jalannya yang tertatih, berjalan menyusuri likuan Hutan Pinus, menyeberangi Sungai, sementara di pundak mereka pikulan mungil yang mencocol dua bentel berat rumput segar. Bukan......bukan rumput segar dari Jabalkat. Ini bukan sejarah Wali. Tolong mengertilah! Ini hanya rumput dari Ndak-awu, Manyutan, dan sekitarnya. Mereka dengan segala berat rumput tersebut, harus berjalan berjam-jam untuk mencampai tujuan. Terkadang sampai malam. Iya, senja telah menjadi panji gelap dari malam, semasa itu. Mereka dengan kerekasaan hidup mereka, nampaknya bukan tipe orang yang bisa menikmati senja dengan cara-cara biasa.

Njawol tersenyum. Kali ini sambil mengemut penuh Rembulan, juga iringan rinai hujan yangbertalu-talu. Gemericik tapi tidak berisik. Nyaman malah!

Teringat pula rangkaian musibah dan bencana alam yang menimpa. Mulai dari longsor besar, virus yang  menyerang Cengkeh, kebakaran hebat yang menimpa Hutan Pinus milik Jawatan, dan apalagi? Banyak pokoknya. Jelas bahwa, semua musibah yang menimpa tadi, merupakan kuasa Ilahi yang maha berkehendak. Namun entah apakah ini merupakan suatu coban? Atau ? (YKWIM-lah, jadi tidak perlu dituliskan)

Srupuuuuut! Ini adalah tegukan terakhir. Namun njawol teringat pula iklan susu bendera coklat zaman dulu. Akhirnya dikoreti-lah capucinno itu, hingga tetes terakhir. Mengacu pada iklan tadi yang bunyi narasi—sebetulnya dilagukan—nya; “ susu bendera coklat, nikmat! hingga tetes terakhiiiiiiiiiiiiir! Susu saya susu bendera!”

Di penghujung kerinduannya terhadap masa lalu, njawol dapat menyimpulkan bahwa; pertama, apa yang dia ingat terkait perjuangan anak-anak sekolah zaman dulu sampaii kerekasaan bapak ibunya dalam mengais rezeki, sebaiknya dilupakan. semua itu pergi karena suatu alasan (tentu saja kemajuan zaman). Tidaklah mungkin akan kembali. Sudah buang saja kerinduanmu.  Selanjutnya, ingatan njawol soal bencana, balak bilahi godo rencono, dan sebagainnya, itu tidak akan bisa dilupakan. Ini adalah mantan terindah. Bagaimanapun juga suatu saat yang tak diduga, tidak menutup kemungkinan semua ataupun salah satunya akan kembali pada njawol. Karena, sekali lagi ini adalah kuasa Ilahi. Walaupun ada sedikit campur tangan manusia, namun gusti Alloh lah yang menghendaki. Alloh itu maha fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu.

Sudah. Njawol sudah selesai mengodal-adul kenanganya.

***

Beberapa hari yang lalu—beberapa hari selanjutnya yang sudah berlalu juga, adik saya dan beberapa temannya, harus berangkat sekolah dengan jalan kaki alias nyeker (biasanya mereka diantar pakai motor). Ini dikarenakan, jalan penghubung Njawol—sekolahan sedang diperlebar mengingat akan dijadikan jalur utama untuk kepentingan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). Iya! Ini salah satu agenda kerja Kabinet Kerja yang tagline-nya Kerja! Kerja! Kerja!, barangkali. Pun juga dikerenakan jalan yang longsor lumayan besar. Ada sedikit campur tangan manusia dalam tragedi ini.


Bagaimana perasaanmu kalau jadi pohon kelapanya?

“lalu......?” tanya kalian-kalian yang ingin bertanya.

Coba anda baca kesimpulan pertama njawol tadi!

Sudah?

Lha yang sudah jelas divonis “TIDAK AKAN KEMBALI” kok malah kembali lagi ya? Anak-anak sekolah yang harus nyeker kesekolahnya? Embuh lah!

Akhir Kata

Dari kasus-kasus di atas kita dapat simpulkan bahwa, Alloh maha segala-galanya. Dikala ciptaank-Nya menganggap suatu kejadian perkara itu musykil adanya, jika Gusti Alloh berkehendak, maka segala hal dapat terjadi. Selanjutnya, Kita hendaknya tetap bersyukur kepada-nya, atas semuanya. Termasuk mengenai jalan njawol ini kita (masyarakat Njawol) juga harus bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena jalan kita diperlebar. Dalam artian diperbaiki dan diperbagus agar menjadi Jalan Zaman Now. serta bersabar untuk sementara akses jalan yang kurang nyaman. Karena semua ini masih proses. Segala sesuatu jika ingin lebih baik juga butuh proses.





2 Responses to "Njawol Teringat Kenangan"

  1. tapi perlu di ingat,5 tahun kedepan kemungkinan jawol akan berubah drastis jika pengeboran panas bumi berhasil,karena jawol posisinya di ring 1.maka generasi yang muda yang punya ketrampilan harus di persiapkan.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel