Motivasi Intrinsik: Menumbuhkan Semangat Tanpa Penyemangat


Pernah nggak sih, suatu waktu kamu merasa kalah, putus semangat, sampai tiada guna?

Pernah juga nggak, suatu waktu kamu merasa kuat, bisa, sampai menggebu-gebu? Dan seringkali rasa yang seperti ini didapat selepas dapat masukan dari orang lain, curhatan dari orang lain atau teman dekat, atau didapat dari forum-forum seperti seminar, talk show dan sebagainya yang intinya dorongan dari orang lain.

Sialnya, rasa semangat dan rasa kuat itu sebegitu mudahnya hilang lagi entah kemana. Hanya butir-butir poin pertanyaan pertama di atas yang akhirnya tetap stay dalam diri. Ini benar terjadi pada diri saya ini, entah kalau kamu?

Secara subjektif akhirnya saya bisa menyimpulkan, bukan cuma iman yang bisa bertambah dan berkurang—redaksi lain menebal dan menipis, semangatpun demikian. Jika diperhatikan lebih lagi, poin-poin yang menyebabkan bertambah dan berkurang iman, kurang lebih sama dengan yang menyebabkan bertambah dan berkurangnya semangat.

Oke, sekarang mari fokus ke ‘semangat’. Ternyata, semangat yang penting adanya namun sulit menjaganya agar tetap menyala, itu bisa dilahirkan dari diri sendiri. Bukan cuma sekadar ditularkan dari orang lain saja. Semangat yang dilahirkan dari diri sendiri itu lalu disebut 'motivasi intrinsik'. Inilah yang saya ketahui setelah menonton video Hutata di Youtube.

Tadi bicara semangat kok melenceng jadi ke motivasi?

Tentu saja. Pada dasarnya antara semangat dan motivasi memang memiliki keterkaitan yang erat dan krusial.

Dalam Wikipedia, motivasi didefinisikan sebagai suatu alasan yang mendorong seseorang untuk melakukan; menyelesaikan; menghentikan; dsb, suatu aktifitas guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan dari motivasi tersebut.

Dalam definisi di atas, dapat dipahami bahwa fokus utama dari motivasi adalah mencapai tujuan tertentu. Bukankah tujuan hanya bisa dicapai lewat usaha yang di dalamnya harus dibubuhi semangat? Jadi jelas, antara motivasi dan semangat memiliki keterkaitan yang erat dan krusial.

Kembali ke motivasi intrinsik. Menurut Sardiman (2008:89), “motivasi intrinsik  adalah motif-motif yang aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Karena dalam diri seorang individu, ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Indikator dalam motivasi intrinsiks ini adalah adanya kemauan, kesenangan, dan keuletan”.

Sementara menurut de Charms, “Intrinsic motivation is an energizing of behavior that comes from within an individual, out of will and interest for the activity at hand.  No external rewards are required to incite the intrinsically motivated person into action. The reward is the behavior itself.  Logically, this seems like an ideal, for people to act as “origins” of their behavior rather than “pawns” (deCharms, 1968)”. Sengaja tidak diterjemahkan, selain karena Enggres saya jelek, juga biar pure dari redaksi aslinya, dan biar blog ini ada Enggres-Enggresnya.

Jadi, dari dua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik merupakan motivasi yang datang dari diri sendiri tanpa ada dorongan dari luar. Motivasi intrinsik ini akan menumbuhkan semangat dari diri sendiri karena ingin mencapai tujuan tertentu, tanpa ada tuntutan dari pihak luar. Mudahnya, motivasi intrinsik menumbuhkan semangat tanpa penyemangat.

Ketika misalnya kita telah memiliki motivasi intrinsik untuk mencapai tujuan tertentu (suka seseorang misalnya), lalu dengan semangat dan usaha—PDKT, PDKT, PDKT, ambil hatinya, dan semacamnya—kita benar-benar bisa mendapatkannya, selanjutnya kita akan terus semangat. Semangat menjaga dan mempertahankan tentunya. Barangkali kita malah akan terus ketagihan untuk hasil yang lebih, menikahinya misalnya. Hiya hiya hiya. Ini juga berlaku untuk tujuan-tujuan lainya, karena hidup tidak melulu soal cinta-cintaan saja.
Umpamane lur! (sumber: vjapratama/pexels)

Begitulah, motivasi intrinsik ini motivasi yang berbeda. Motivasi yang sangat penting tanpa terkontaminasi alasan-alasan dari luar. Layaknya mencintai yang tak butuh banyak alasan.
Lalu bagaimana menumbuhkan motivasi intrinsik ini? Sekali lagi, bukankah motivasi apapun itu jenisnya, seringkali datang dan pergi begitu saja?

Jawabannya memulai. Paksa. Sayapun yang masih sering hilang arah ini juga masih berusaha akrab dengan motivasi intrinsik. Bagi kamu yang memiliki gejala sama dengan saya, ayo sama-sama kita mulai menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri kita masing-masing.
Terakhir, saya akan coba goreskan bentuk motivasi intrinsik saya dalam bentuk tulisan seadanya. Agar bila saya hilang arah, bisa kembali melihat catatan ini untuk kembali menumbuhkan semangat, disini.


Hai diriku!

Terima kasih telah bertahan walau seringkali jatuh, gagal, terpuruk, sakit, dan hilang arah. Terima kasih tetap baik-baik saja atas semuanya.

Terima kasih juga telah sebisa mungkin membungkus sisi naif, anomali, juga introvert menjadi potensi.

Kita hebat, kita kuat diriku.

Kita telah sejauh ini. Sekarang tak cukup hanya bertahan. Ayo kita mulai Offensive! Walupun bila akhirnya gagal, coba lagi. Terus. Pelan-pelan. Satu persatu. Sedikit demi sedikit, lalu kita selesaikan. Seperti tagline yang kita sepakati #GayukGayukTuno.

My another me. Kita satu, mari berjuang. Untuk diri kita, agama, bangsa dan semua orang yang tersayang.

Terima kasih. Stay humble.
Ayo dong, coba kamu juga tuliskan motivasi intrinsik untuk dirimu sendiri di kolom komentar! Barangkali bisa menambah semangatmu nantinya. 


7 Responses to "Motivasi Intrinsik: Menumbuhkan Semangat Tanpa Penyemangat"

  1. Sejauh pengalaman, ada 3 poin penting untuk menjaga motivasi internal atau yang dirimu sebut motivasi intrinsik.

    Yang pertama kita perlu tahu The What, alias apa yang mau kita gapai, raih, or perjuangin. Banyak orang gagal mendapatkan apa yang dia mau karena dia sendiri nggak jelas dengan apa yang dia mau.

    Pengen punya pacar cantik, udah dapet eh ternyata ya menderita juga gegara si doi cemburuan lah, suka marah-marah lah, makannya banyak lah, dll.

    Yang kedua adalah The Why, alias kenapa sih kita mau susah-susah ngerjain sesuatu, berjuang mewujudkan impian kita.

    Last but not least, adalah The How a.k.a gimana caranya. Tujuan jelas, alasan kuat, tapi nggak tahu pake cara apa, lewat jalur mana, alat apa yang digunakan. Ya susah juga.

    BTW, kenapa mesti nyitat teori pakar sih? Copas pula. Jadi berasa baca skripsi aja.

    Gimana kalau lain kali cukup dikasih hyperlink dan definisinya dirimu bahasakan sendiri dengan versimu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pencerahannya dan masukannya Suhu. Ini sangat membantu untuk saya berproses ke depannya.....

      Hapus
  2. Klo patah semangat, aku cukup lihat foto anak2 aja. Lgsg kebakar lagi. Itu motivasi dr luar sih ya,,, hehe. but it worked :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung orangnya juga sih cocoknya yang mana. Kalo dr luar saja sudah work itu juga bagus

      Hapus
  3. Terus terang di umur 22 tahun begini, dimana diri baru saja lulus kuliah dan harus memulai langkah hidup baru lagi, motivasi sering naik turun.. kalau saya sih untuk naikin motivasi kembali dengan mengingat tanggung jawab ke depan dan mimpi-mimpi yang harus saya capai

    BalasHapus
    Balasan
    1. yha mantab gan........terus berusaha aja sihhhh

      Hapus
  4. Hmm, aku beum pernah dengar jenis motivasi itu.
    Aku sedang dalam program penggemukan badan.
    Awalnya aku semangat. Udah naik 6 kg, lumayan kan..
    nah di tengah2 gini kadang suka males.
    Biasanya aku semangatin diriku liat foto2 di instagram.
    Foto2 supermodel yg seksi2 itu.. hahhaha
    kalo udah gitu ya biasanya kepancing sendiri :D
    Jadi semangat lagi deh. Hahaha..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel