Algoritma Bubble Sort Media Sosial, Serta Dampak yang Ditimbulkan Bagi Kehidupan


Perkembangan teknologi digital yang semakin canggih, agaknya memang sangat membantu manusia untuk bisa memenuhi setiap keinginanya. Munculnya platform-platform e-commerce membantu pemenuhan kebuthan secara instan dan cepat; semakin canggihnya mesin pencari seperti Google, Yahoo, Bing, dan lain-lain, menjadikan mudahnya mengakses data dan informasi; serta adanya situs media sosial semakin memudahkan seseorang mendapatkan lingkaran perteman yang sesuai dengan minatnya.

Bahkan, didepan layar fana media sosial, orang-orang zaman sekarang bisa menghabiskan waktu berjam-jam, karena konten yang ditawarkan memanglah sesuai dengan apa yang diminatinya. Uniknya, sajian media sosial antara orang satu dengan yang lainnya ini bisa berbeda-beda, seolah-olah situs media sosial tahu betul orang A suka ini, orang B suka yang lainya, dan seterusnya. Semua ini tidak luput dari adanya teknologi Algoritma Bubble Sort yang diterapkan pada setiap media sosial. Apa itu?

Pada dasarnya, algoritma sendiri merupakan urutan langkah-langkah yang dinyatakan secara jelas dan tidak rancu untuk bisa memecahkan suatu masalah pada rentang waktu tertentu (Fathul Wahid, 2004:2). Langkah-langkah tersebut oleh Programer lalu ditulis kedalam bahasa pemrograman komputer, menjadi sebuah program yang bisa memecahkan masalah yang ada kaitannya dengan dunia digital.

Semenentara Bubble Sort dalam Teknojurnal.com (27 juni 2016), didefinisikan sebagai program pengurutan dengan cara pertukaran data dengan data disebelahnya secara terus menerus sampai dalam satu iterasi tertentu tidak ada lagi perubahan. Sederhananya seperti itu, walaupun pada praktiknya, penerapan algoritma ini itu lebih rumit karena penggunanya di seluruh dunia, dan dengan variable minat, hobi, dan kesukaan yang sangat beragam.

Cara kerja algoritma ini juga didasarkan pada beberapa faktor, seperti perilaku dan tindakan apa yang sebelumnya telah dilakukan pengguna ketika membuaka situs sosial media. Postingan apa saja yang seorang pengguna sukai, yang dikomentari, yang dibagikan, siapa saja circle pertemanannya, serta lokasi pengguna akan ditangkap fitur Bubble Sort, kemudian secara sistematis akan diurutkan secara algoritmik, sehingga menghasilkan input berupa konten apa saja yang relevan bagi pengguna media sosial tersebut.

Seperti diberitakan Tirto.id (19 September 2017), ini semua tentu karena tujuan utama dan fungsi algoritma tersebut adalah untuk memudahkan melacak data, dan tentu saja sebuah kemudahan untuk industri periklanan. Keberadaan algoritma ini juga mempermudah pengiklan menyasar pasarnya.

Selain menguntungkan pengiklan, adanya fitur Bubble Sort ini juga sangat membantu bagi pengguna media sosial yang sedang mendalami suatu minat atau hobi. Misalnya saja mereka yang hobi desain grafis, akan semakin mudah menemukan referensi desain-desain baru yang semakin menambah kreatifitasnya. Begitupun dengan peminat-peminat bidang lainnya, seperti peminat game, baca, tulis, make up, berita artis, DIY, dan lain-lain secara otomatis akan disuguhi konten atau  postingan serupa yang lebih banyak dan beragam.

Ketika di satu sisi media sosial dengan adanya fitur bubble sort ini menyodorkan informasi yang relevan, di sisi lainnya juga berdampak menjadikan seseorang terjebak pada lingkaran yang itu-itu saja. Pada akhirnya seorang individu tersebut sama saja dicekoki satu hal saja tanpa mau melihat sudut pandang orang lain.

Mengutip dari laman tirto.id (19 September 2017) Eli Pariser, seorang aktivis internet, melihat ada kejanggalan yang berbahaya dari sistem algoritma (buble sort). Algoritma (Bubble Sort) akhirnya menciptakan sebuah "filter buble" yang membuat seseorang terisolasi secara intelektual.

Dari laman technopedia.com, filter bubble ini diartikan  sebagai isolasi intelektual yang dapat terjadi ketika situs web menggunakan algoritma (Bubble Sort) untuk secara selektif mengasumsikan informasi yang ingin dilihat pengguna, dan kemudian memberikan informasi kepada pengguna sesuai dengan apa yang ingin mereka lihat.

Artinya ketika seseorang tak pernah melihat sudut pandang berbeda dari orang lain, maka kemungkinan besar ia akan terus berlarut-larut dalam pandangannya sendiri saja. Hal itu dikhawatirkan akan membuatnya mendefinisikan dunia hanya dari satu sudut pandang saja. Sehingga ini bisa menyebabkan seorang individu sangat fanatik terhadap sesuatu dan memungkinkan munculnya sifat yang antikritik.

Akibat fatal lainnya dari adanya filter buble adalah salah kaprah seseorang dalam memaknai sesuatu. Karena yang terus ia peroleh dari sosial media adalah konten atau informasi seragam, menyebabkan ia merasa bahwa orang-orang lain secara mayoritas sepaham dengannya. Padahal, bisa saja anggapannya itu hanya pendapat segelintir orang yang disatukan dalam urutan algoritma Bubble Sort ini saja. Di tempat lainnya bisa saja yang terjadi sangatlah berbeda.

Kejadian seperti inilah yang dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk mengadu domba. Tujuannya kebanyakan adalah untuk kepentingan kontestasi politik praktis. Golongan orang-orang yang berada di lingkaran A secara perlahan akan disentilkan dengan golongan lingkaran lainnya yang berbeda, tentu dengan memanfaatkan cara kerja Bubble Sort ini. Misalnya dengan membagikan postingan golongan satu agar bisa masuk ranah golongan yang lainnya. Kemudian apabila postingan tersebut dikomentari, walau itu bentuknya nyinyiran, cibiran, atau makian, tetap saja akan secara otomatis diurutkan menjadi satu circle oleh Algoritma Buble Sort.

Pada akhirnya timbullah kegaduhan-kegaduhan serta terkotak-kotaknya masyarakat, dan terusnya terjadi benturan antar golongan satu dengan yang lainnya. Sesuatu yang sesungguhnya dibuat untuk menyatukan, malah berbalik menjadi paradoksial yang krusial, dan banal. Miris!



Technopedia. Definition – What does Filter Bubble Mean?. Diperoleh 24 November 2018, dari https://www.techopedia.com/definition/28556/filter-bubble

Tekno Jurnal. (2016, 27 Juni). Belajar Algoritma Bubble Sort untuk Pengurutan. Diperoleh 24 November 2018, dari https://teknojurnal.com/pengertian-algoritma-bubble-sort/

The Guardians. (2017, 22 Mei). How Social Media Filter Bubbles and Algorithms Influence the Election. Diperoleh 24 November 2018, dari https://www.theguardian.com/technology/2017/may/22/social-media-election-facebook-filter-bubbles

Tirto Id. (2017, 19 September). Filter Bubble: Sisi Gelap Algoritma Media Sosial. Diperoleh 24 November 2018, dari https://tirto.id/filter-bubble-sisi-gelap-algoritma-media-sosial-cwSU

Vindy Putri. (2018, 09 Februari). Algoritma Gelembung di Media Sosial – Makin Pinter & Makin Fanatik. Diperoleh 24 November 2018, dari https://www.vindyputri.com/algoritma-gelembung-makin-pinter-makin-fanatik/

Wahid, Fathul. (2004). Dasar-Dasar Algoritma dan Pemrograman. Yogyakarta: Andi

*tulisan ini sebetulnya adalah tugas matkul, yang lalu saya post di blog ini. Tidak menggunaan hyperlink untuk merujuk sumber, dan malah menggunakan daftar pustaka adalah kesengajaan. wkwkwk 

8 Komentar untuk "Algoritma Bubble Sort Media Sosial, Serta Dampak yang Ditimbulkan Bagi Kehidupan"

  1. Hebat ya aktivitas kesukaan berselancar apa saja pengguna bisa didata untuk keperluan menyasar segmen pengiklanan yang tepat ..., makin canggih saja.

    BalasHapus
  2. Nahh ini adalah topik yang menarik.. Terus terang saya lagi cari tahu tentang tema ini. Media sosial mengantarkan kita pada satu sisi gelapnya, yang berakibat membodohi orang hanya karena kepentingan sesat. Karena hal ini, orang jadi hujat sana dan hujat sini akibat ikut mengalir di konten yang seragam. Mereka yang terbawa arus tak punya pembanding yang kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Pokoknya kalo main sosmed harus konfirmasi setiap kabar yg didapat. Beneer atu tidaknya

      Hapus
  3. Demikianlah algoritma, menciptakan lingkaran yang itu-itu saja dan menjebak pelaku di dalamnya.
    Teman saya banyak namun algoritma FB telah memisahkan mereka dari lingkaran saya, jadi kesannya teman saya dikit dan itu-itu saja.
    Kesalnya, buble sort malah menyortir orang nyinyir tetap masuk dalam lingkaran pertemanan saya hanya gara-gara sebelum doi nyinyir saya pernah menjempol statusnya. Apa boleh buat, terhadap pengaturan demikian saya terpaksa berhenti mengikuti insan nyinyir karean tak nyaman.
    Buble sort bagaimanapun adalah mesin, tetap ada celah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul....solusi terbaik jika dinyinyiri demikian adalah unfriend ataupun dibblok saja. sangat mengganggu soalnya....

      Hapus
  4. Saya sendiri kurang nyaman dengan algoritma seperti ini. Jadi cenderung bosan karena timeline saya dia lagi, dia lagi, jadi apa guna punya friendlist/following banyak kalau yang muncul di timeline itu-itu lagi. Makanya sekarang sudah mulai kurang minat main medsos, huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyasih, semutakhir apapun program, masih ada saja kelemahannya hehe.....

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel