Hanya Hari yang Biasa



Ini adalah cerita beberapa hari lalu sebelum 17 agustus.

Selepas  melewati jalan Imogiri Timur ke jalan Jejeran-Pleret, tentu yang terlihat di kanan kiri jalan adalah deretan kios-kios onderdil dan suku cadang motor baik baru maupun bekas. Tidak berlebihan bila kemudian tempat ini disebut sebagai surganya anak motor. Teman saya lulusan SMK di Ponorogo, ketika berbincang perihal Jogja, yang diketahui selain Malioboro, Borobudur, dan alun-alun memang adalah Pleret. Pleret dan segudang serba-serbi per-motoran-nya tentu saja maksudnya.

Memacu pelan motor, saya menyusuri jalanan yang lumayan kecil dibanding jumlah kendaraan yang berlalu lalang. Seketika penglihatan saya teralihkan pada mas-mas yang berjalan santai di depan kios-kios onderdil mengenakan kaos hitam dengan sablon deus Ex Machina dibagian punggung.

“Barangkali mas yang itu cari suku cadang untuk motor vespanya,” pikir saya dalam hati sembari terus melaju pelan memacu motor.

Mendekati pasar Klitikan--pasar yang lagi-lagi khusus menjual suku cadang motor baru maupun bekas.eh bekas aja kayaknya deng!!--saya membelok ke arah kiri menuju dusun Kanggotan tempat teman saya. Kami memang berencana akan meneruskan project kami di daerah Piyungan. Lagipula, motor yang saya gunakan ini sebetulnya juga miliknya yang saya pinjam.

Singkatnya, setelah saya menemui teman saya di tempatnya di PPTQ Al-Rusydi, kami langsung tancap gas menuju Piyungan melewati gang-gang dusun Kanggotan.

Baru beberapa meter kami melaju, disebuah belokan gang kami hampir bertubrukan dengan bocah kecil, sepertiya berusia sekitar 7 tahunan yang memacu sepedanya cukup cepat dengan tangan kirinya memegang bendera merah putih kecil yang terbuat dari bahan plastik. Sepertinya ia mendapatkannya dari sisa yang digantung warga diantara gang-gang.

Walaupun sekejap kami saling kagok, anak kecil tersebut lantas kembali memedal sepedanya melaju terus. Begitupun teman saya, kembali menggeber motornya. Saya di jok belakang hanya sedikit tersenyum sambil berpikir bahwa nyatanya nasionalisme bisa begitu saja tertanam dengan hal-hal kecil. Tradisi menghias lingkungan dengan penak-pernik kemerdekaan agaknya manjur untuk mengenalkan nasionalisme untuk semua kalangan masyarakat Tidak semua tapi wkwk....

Melaju lagi belum begitu jauh dari kejadian kecil tadi, di seberang  jalan di depan sebuah rumah, perhatian saya teralihkan pada seorang ibu yang sedang mengangkat anaknya yang sebelah kakinya tercelup sisa cat. Sepertinya sisa cat untuk mengecat pagar-pagar tembok rumahnya di depan rumah. Dapat ditebak, kemungkinan pagar-pagar yang diperbarui catnya tersebut juga dalam rangka menyambut hari kemerdekaan.
Sumber: Pixabay

Saya kembali tersenyum, batin saya tentram. Sebagai sekadar anak kost-an di kota orang, saya cuma bisa membatin, “Dirgahayu Indonesia-ku. Semoga di ulang tahun ke-74 ini menjadi awal elan kebangkitan kita menjadi negara yang benar-benar berdaulat, adil,dan makmur. Merdeka!”.

Kejadian yang sangat biasa di atas terjadi beberapa hari yang lalu menjelang 17 Agustus. Iya, memang sangat biasa, tapi entah apa yang menyebabkan cuilan-cuilan peristiwa di atas terus menempel di benak dan kepala saya. makanya saya tulis di sini.

6 Komentar untuk "Hanya Hari yang Biasa"

  1. ditempatku juga ruamai banget euforia peringatan hari Kemerdekaan, dari anak kecil hingga lansia. semuanya gotong royong menghias gang-gang rumah, meramaikan dengan berbagai lomba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 17-an memang suasana yg selalu ditunggu setiap tahun selain lebaran....wkwkwk

      Hapus
  2. Semoga saja 74 tahun ini menjadikan indonesia makin maju dan damain ya....
    Rasanya senang karena rasa nasionalisme masih melekat di jiwa tiap masyarakat indonesia.😊

    BalasHapus
  3. Sama juga, sebagai perantau, saya juga nggak begitu bisa merasakan euforia "Agustusan" di rumah sendiri. Tapi sempet liat status WA dari temen-temen dan orang rumah. Alhamdulillah, nggak kalah meriah dengan pesta kemerdekaan di tanah rantau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener gan....cuma kita tak terlalu berperan kalau di tanah rantau

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel