Anomali Ahsan/Hendra, dan Bagaimana Mereka Kembali Muda


Sumber gambar asli: PBSI
Anomali! Di usia yang tak lagi muda, pasangan ganda putra Indonesia Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan lagi-lagi menorehkan prestasi bergengsi. Torehan ini selain menegaskan bahwa Ahsan/Hendra belum habis, ada fakta-fakta menarik yang membuat nama Ahsan/Hendra akan selalu dikenang Indonesia saat ini, selanjutnya, dan kapanpun.

Seperti biasa, hanya sesungging senyum tipis, kepalan tangan, dan ungkapan syukur yang terlihat kala Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan memenangi salah satu kejuaraan bulutangkis tahunan prestisius, Yonex All England 2019.

Hari itu Minggu malam, 10 Maret 2019. Birmigham menjadi saksi bisu atas keperkasaan ganda veteran berjuluk The Daddies ini. Di usia Hendra yang menjelang 35 dan Ahsan 32, mereka kembali merebut gelar yang pernah mereka dapatkan 5 tahun silam.

Menariknya lagi adalah, gelar juara All England 2019 mereka peroleh dengan perjuangan yang menyayat hati. Bertanding di final, sejatinya Ahsan/Hendra tidak berangkat dengan kesiapan seratus persen, lantaran Hendra harus menahan cedera kaki kanan yang dideranya sejak pertandingan semifinal.

Akibat cederanya ini, membuat Hendra Setiawan melakukan banyak kesalahan di gim pertama dan mereka harus mengakui keunggulan lawan 21-11. Dasar sudah terbiasa makan asam garam, jam terbang tinggi, dan segudang pengalaman, Ahsan/Hendra bangkit di gim kedua, menyamakan kedudukan, danenangi laga di gim ketiga.

Walaupun beberapa kali mendapat perawatan atas cedera kakinya, placing-placing jahanam Hendra tetap tersaji dalam laga tersebut. Beberapa kali Hendra juga melakukan jumping smash keras meski hanya bertumpu pada satu kaki, kaki sebelah kiri. Pun juga covering sempurna Ahsan sepanjang laga membuat ketar-ketir lawan. Sesaat Ahsan menjelma playmaker bayangan, sesaat yang lain menjadi penyerang dengan smash-smash keras kadang menyilang yang memporak-porandakan pertahanan lawan.

Aaron Chia/Soh Woi Yik, ganda putra Malaysia yang menjadi lawan Ahsan/Hendra di final harus merelakan mendapat posisi kedua. Meskipun begitu, tentu mereka mendapat pelajaran berharga perihal pantang menyerah seperti apapun kondisi yang terjadi. Must go on.

Memperoleh gelar juara All England tidak lantas membuat Ahsan/Hendra cukup. Konsistensi mereka di turnamen-turnamen selanjutnya membuat dunia bulutangkis terkagum-kagum. Bagaimana bisa, pasangan yang sudah pernah bubar dan dikabarkan selesai, bisa kembali dengan performa apik pada masa yang telah berbeda—beberapa turnamen tur BWF nyatannya juga mereka taklukan. Sejak kemunculan Kevin/Markus dan sejawatnya, gaya permainan ganda putra memang sedikit mengalami variasi berbeda dibanding zaman Ahsan/Hendra dan sejawat 4 tahunan lalu. Luar biasanya, bukannya tergerus, Ahsan/Hendra malah bisa menyesuaikan dengan resep mereka sendiri yang benar-benar efektif bagi keduanya.



5 bulan berselang setelah juara All England, tepatnya pada 25 Agustus 2019, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kembali membuat dunia bulutangkis terpana dengan memenangi kejuaraan dunia bulutangkis 2019. Lagi-lagi, pasangan berjuluk The Daddies ini mengulang rekor yang terakhir mereka dapatkan 4 tahun silam. Gila, luar biasa.

Gelar yang The Daddies dapatkan di St. Jakopshalle, Basel, Swiss ini barangkali menjadi yang paling berkesan. Berkesan bagi diri mereka masing-masing, pun juga bagi bangsa Indonesia.

Pasalnya pada hari yang sama ketika Ahsan/Hendra juara dunia, Hendra Setiawan ulang tahun yang ke-35. Tepat setelah seremonial penerimaan penghargaan, beredar di dunia maya, tim Indonesia merayakan ulang tahun pria yang sering disebut dewa Hendra tersebut. Selain itu, gelar ini juga menjadi kado manis bagi Indonesia yang baru saja merayakan hari kemerdekaan ke-74.

Hendra Setiawan menjadi pemain tertua yang berhasil juara dunia dan pemain pertama yang juara dunia tepat pada hari ulang tahunnya. Serta pasangan Ahsan/Hendra, sejauh ini tidak pernah terkalahkan dalam setiap edisi kejuaraan dunia yang mereka ikuti—alias selalu juara (2013, 2015, 2019). Imortal.

Ahsan/Hendra, dengan elegan memberikan bukti kepada kita semua, bahwa kerja keras dan pantang menyerah adalah kunci dari segala keberhasilan. Satu lagi, tanggung jawab. Kesadaran dalam diri Muhammad Ahsan &  Hendra Setiawan terhadap tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga mereka masing-masing dan tanggung jawab terhadap negaranya benar-benar tulus mereka lakukan sebagai wujud cinta dan pengabdian.

Bolehjadi bagi Ahsan/Hendra,umur hanyalah angka-angka yang tidak terlalu berpengaruh bagi skill mereka. Nyatanya, sejak artikel ini selesai ditulis, Ahsan/Hendra kembali ke partai puncak China Open Super 1000 berhadapan dengan kompatriot senegara mereka The Minions. Walaupun pada akhirnya dikalahkan The Minions, lagi-lagi Ahsan/Hendra ke final dengan perjuangan luar biasa. Ahsan cedera sejak perempat final dan ganti Hendra yang sedikit banyak melakukan covering lapangan sama seperti yang dilakukan Ahsan di final All England lalu.

Saat ini, Ahsan/Hendra fokus istirahat pemulihan cedera untuk kemudian comeback stronger.

2 Komentar untuk "Anomali Ahsan/Hendra, dan Bagaimana Mereka Kembali Muda"

  1. Perjuangan keduanya memang keren sih, meski dikalahkan sm the minions, tp mereka tetap hebattt

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel