Mengamini Joko Pinurbo Perihal "Bahwa Sumber Segala Kisah Adalah Kasih"

Sumber: idntimes.com dengan sedikit di-edit
Dalam Event Asean Literary Festival 2016 di Jakarta yang diupload Chanel Youtube Jakartanicus beberapa waktu yang lalu, ketika ditanyai Najwa Shihab soal puisinya yang paling berhasil,  Joko Pinurbo membacakkan “Kamus Kecil”-nya. Menurut saya, puisi tersebut bukan hanya berhasil, tapi jenius. Dalam puisi tersebut, Joko Pinurbo bukan cuma bermain bunyi dan rima, tapi juga beberapa rangkaian othak-athik kata dan bumbu-bumbu sastra khas Jokpin yang unik dan out of the box, epik!.

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan

Dua bait awal puisi gubahan Joko Pinurbo tersebut sudah menunjukkan bagaimana penyair sekaliber Joko Pinurbo tak perlu muluk-muluk menggunakan diksi berat, sebaliknya malah terlihat lebih realistis dan mengalir. Dari dua bait di atas pulalah kemudian mengalir bait-bait selanjutnya yang terdiri dari permainan anagram yang dibentuk menjadi kata lain yang masih berkaitan dengan kata sebelumnya, pun juga sebagian ada othak-athik dua kata berima sama yang juga masih berkaitan satu sama lain. Selain itu, penyair 57 tahun ini secara  gambalng menjelaskan adanya hubungan sebab akibat dari kata-kata yang dibentuk dari huruf yang sama dan atau yang dibentuk dari huruf yang hampir sama dalam  gubahan puisinya—ini baru berat.

Hal lain yang menarik dari puisi “Kamus Kecil” ini adalah bahwa pembaca juga dipaksa pak Jokpin untuk belajar lebih lagi mengenai kalimat majemuk dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat 

Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
Ruang penuh raung
Segala kenang tertidur di dalam kening

Hemat saya, dalam bait-bait di atas, joko Pinurbo dengan elegan menganalogikan kisah kerinduan dengan rangkaian kalimat majemuk. Dalam hal ini, Joko Pinurbo sungguh berani dan benar-benar epik bukan?

Dalam hati, saya takjub dengan kepiawaian pak Jokpin, sekaligus pengen mengumpati diri sendiri karena harus memahami dengan betul mengenai kalimat majemuk. Asu eh... Asem!!!—Mengumpatnya juga harus secara elegan sesuai dengan kata Joko Pinurbo dalam puisinya yang lain dong, yang berjudul "M".

Dan kata guru bahasamu, di dalam kata asem ada asu
yang telah ditangkal tangan yang kalem.


Mendengarnya secara saksama, ada sebait dari puisi tersebut yang terngiyang-ngiyang di kepala saya lebih jelas dari bait-bait lainnya. “Bahwa sumber segala kisah adalah kasih,” tulis Pak Joko Pinurbo dalam puisinya tersebut. Apakah iya demikian?

Setelah melalui proses perenungan panjang—nggak deng perenungan sekenanya — memang benar bahwa sumber segala kisah adalah kasih. Kasih Thanos pada Alam Semesta melahirkan Kisah Avengers & puluhan film Marvel Studios yang menyertainya; kasih Obito kepada Rin Nohara melahirkan kisah Naruto dan rangkaian perang dunia Shinobi yang mesti dihadapi; kasih ini, kasih itu, melahirkan kisah ini, kisah itu; dsb.

Realita di atas memang terjadi di dalam karya fiktif, akan tetapi, bukankah karya fiktif yang dibangun dari pokok kasih memang selalu booming, laku keras, hits, dan populer. Dengan kata lain, karya dengan bumbu kasihlah yang boleh disebut kisah, selain  itu barangkalai bukan, atau belum—sebutlah setengah kisah, seperempat kisah, atau kisah jadi-jadian. Artinya bukan kisah yang utuh.

Kisah nyata yang baru saja booming, KKN di Desa Penari yang menyesaki seantero media sosial Indonesia, dimulai dari thread Twitter, sampai ke Instagram, Facebook dan media sosial lainnya juga dipicu dari kasih Bima dan Ayu.

Kejadian di atas secara otomatis memberikan pembenaran bahwa di realita kehidupan kita, sumber segala kisah adalah kasih. Ini adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa tidak. 

Lalu, bagaimana dengan sebagian kita-kita yang tak berkasih, apakah kehidupan yang selama ini kita jalani hanya sebuah kesah? Big no! Kehidupan kita semua yang eksis di dunia masing-masing adalah buah kasih Ibu kepada kita, yang tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia—You sing you lose.

So, teruntuk semuanya saja yang menjalani kisah hidupnya masing-masing, mengutip Muhammad Ali Makruf (Videografer Mojok.co), semoga kita semua diberi kebahagiaan dan kesedihan yang cukup menjalani lika-liku kisah ini. Cheer up!

* Tulisan ini hanya pendapat pribadi penulis yang barangkali menyesatkan, karena penulisnya adalah orang yang benar-benar awam soal puisi-puisi-an (Kalau Puisying sudah ahli). Jika isinya bertentangan dengan pendapat pembaca harap  dimaklumi ya!.

13 Komentar untuk "Mengamini Joko Pinurbo Perihal "Bahwa Sumber Segala Kisah Adalah Kasih""

  1. Walaupun bahasa manusia tidak seeumit sintaksnya bahasa program, saya tetap harus belajar banyak untuk memahaminya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk....tiada yg lebih paham puisiselain penulisnya. Kita bisanya yg menafsiri secara kira-kira😁

      Hapus
    2. Setuju, puisi itu seperti lukisan abstrak, banyak artinya, terkadang penafsiran kita terlihat ambigu dan...

      Hapus
  2. Sastrawan memang hidup perasaan dan pikirannya

    BalasHapus
  3. Sepertinya masnya juga calon sastrawan ini... saya agak kurang paham dalam menafsirkan sebuah puisinya, namun saya suka puisi :)

    BalasHapus
  4. kenapa bawa-bawa obito dan naruto segala, kan saya jadi baper. he... he....
    maklum penggemar naruto.

    saya suka dengan puisi di atas juga pembahasan mas rizal soal puisi tersebut. memang kisah yang indah dan tak terlupakan itu pasti berasal dari kasih, entah kasih yang murni atau udah dicampur segala macem.

    BalasHapus
  5. saya sih orang yang awam banget dengan puisi bang, setelah baca dikit di atas memang epik, pembahasanya mungkin juga beda dengan puisi yg pernah saya baca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mas. Saya sebenarnya juga awam bgt. Ngasal aja nulis celotehannya itu wkwkwk...

      Hapus
  6. meskipun ngasal tapi bahasanya keren sih.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel