Pesan Ibu

‍‍‍‍‍‍"Le, jogo kesehatane yo!"
Apa yang membuat pesan teks daring begitu terasa lebih emosional mengoyak batin? Karena jarak dan rindu yang turut ambil bagian.

Beberapa waktu lalu, sebaris pesan Ibu datang tiba-tiba membuat saya sejenak terdiam. Pesan itu datang begitu saja tanpa musabab. Padahal hari sebelumnya kami juga bertukar pesan saling mengabarkan.

Pesan klise dari Ibu kemudian saya balas dengan jawaban yang tidak kalah klise pula, "iyo mbok, pandongane wae tetep diwenehi kesehatan" (iya Buk, doakan juga tetap dikasih kesehatan).
Kita memang selalu dihadapkan pada hal-hal klise yang menghidupkan.
Ibu saya akhir-akhir ini memang mulai menggunakan media daring seperti whats apps dan juga facebook. Hal ini semakin memudahkan ia berkomunikasi dengan anaknya yang tidak membanggakan ini.

Saya jadi teringat penggalan Kamus Kecil karya Joko Pinurbo, "bahwa ibu tak pernah kehilangan iba". Tentu yang dimaksudkan pak Jokpin adalah Iba seorang Ibu pada anaknya—entah seperti apapun kondisinya. Seperti definisi Joko Pinurbo, Ibu saya adalah pengiba yang ulung kepada saya, pun juga adik-adik saya.

Ibu tidak berubah. Ia masih percaya kepada anaknya ini yang seringkali mengecewakan dan belum banyak pencapaian. Layaknya ia dulu sekali terus percaya ketika saya baru  belajar berjalan. Kendati puluhan kali terjatuh sampai menangis kesakitan, ada ibu yang selalu mendukung dan terus menenangkan. Hingga ketika saya mulai pandai berjalan, tawanya rekah disertai tepukan tangan dan ucapan, "anak pinter....yeee". Saya sebetulnya tidak mengingat ketika saya baru berjalan persis. Tetapi, sebesar kepercayaan ibu, saya percaya dulu inilah yang dilakukan Ibu.

Sampai sekarangpun barangkali ibu masih menganggap saya adalah anak kecilnya yang baru belajar berjalan. Ibu akan terus mendukung, mengingatkan, dan tentu saja percaya. Saya kira, tiada kepercayaan sedalam kepercayaan seorang ibu, walaupun kepercayaan yang ia berikan masih kita jawab dengan rentetan kegagalan dan ketidak jelasan.

Beberapa saat setelah mendapat pesan daring ibu, saya sempatkan untuk menghubungi via sambungan WA Call. Bukan hanya ibu, ada bapak pula disana yang bergantian berbincang dengan saya.

Bersahutan ibu dan bapak mengabarkan kondisi rumah. Seperti biasa, mereka mengabarkan yang baik-baik. Durian kami yang cukup banyak berbuah, hujan yang sudah mulai sering, kambing kami yang berbiak, adik yang antusias ikut program PKM, dan obrolan hangat lainnya. Tentu saja mereka juga menanyakan kemajuan dan kondisi saya di perantauan. Saya kabarkan proses yang sedang saya jalani, mereka antusias.
Ibu dan bapak memang selalu banyak menaruh harap pada anak-anaknya.
Melalui percakapan ringan dan saling mengabarkan, saya percaya itulah sebaik-baiknya merawat harap mempuk kepercayaan. Bukan hanya tentang kepercayaan orang tua kepada saya, akan tetapi juga kepercayaan terhadap diri sendiri masing-masing.

Suatu saat  entah kapan masanya, yang saya harapkan bukan hanya sekadar ucapan "anak pinter...yee," dari orang tua khususnya ibu. Semoga saja diri ini bisa terus berjalan sambil—meminjam petuah jawa—mikul dhuwur mendhem jero.

Semoga itulah jawaban paripurna atas semua kepercayaan Ibu-bapak, amiin.


4 Komentar untuk "Pesan Ibu"

  1. selamt hari ibu bang, gw ucapkan semoga ibunya sehat selalu, diberi umur panjang, dan bisa melihat anak2nya sukses... sebenernya ini juga doa untuk ibu gw sebdiri si :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin..... Semoga ibu kita tetap diberikan kesehatan jasmani dan rohani, rezeki berkah, dan panjang umur. Semua yabg baik akan berbalik😀

      Hapus
  2. Kasih ibu sepanjang hayat, kasihnya kekasih berakhir perpisahan

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel