Apa yang Membuat Kita Tetap Menjadi Manusia?

Hari itu sabtu sore, setelah hampir seharian bergiat dengan kegiatan di Kampus, saya dan dua orang teman merencanakan untuk ngopi. Sudah cukup lama tidak ngopi bersama sejak masing-masing dari kami sibuk sendiri-sendiri. Sebetulnya juga karena memang baru saja liburan semester.

Keadaan semakin dramatis kala hanya ada satu motor. Paginya saya ke kampus memang nebeng teman, sementara satu teman saya yang lainnya memakai jasa Ojol. Kamipun segera berembug soal bagaimana harusnya kita pergi ke tempat ngopi yang jaraknya sekitar kurang lebih 15 km. Sebelumnya kita memang sudah menyepakati akan ngopi di kafe yang dulu biasa kami kunjungi.

Sedikit nekat dan terdengar buruk, karena tidak memungkinkan membiarkan satu teman kami naik ojol, kami sepakat untuk cenglu (boncengan 3) dengan memilih melewati jalur-jalur dalam alih-alih jalan raya—jangan ditiru. Dengan pikiran yang was-was karena kami jelas melanggar walaupun lewat jalan dalam, pada akhirnya kami sampai di warung kopi.


Di warung kopi, kami sudah ditunggu dua teman lainnya yang kami beri kabar sebelumnya, mereka datang dari kost masing-masing. Dan acara ngopi-ngopi sebagaimana sebelum-sebelumnya kembali kami rasakan. Banyak perbincangan soal keseharian masing-masing. 

"Kalau di kost, kami sibuk pada HP masing-masing sambil goleran. Kadang si A gak nyambung kalau tiba-tiba diajak ngomong. Si A kan gebetannya banyak, sibuk ngrumate, hahahaha...." Ujar seorang teman saya yang indekost berdua mengeluhkan kehidupan kostnya.

"Sama saja. Si Rizal di kontrakan kalau sudah fokus sama HP-nya juga gak nyambung kalau di ajak bicara," balas teman saya lainnya yang tinggal satu kontrakan dengan saya.

Saya hanya tersenyum sambil membalas bahwa kebanyakan dari kita memang begitu, termasuk yang ngomong juga. Memang kenyataannya begitu, dan mereka semua mengamini.

Sejenak saya tersadar, bahwa di tempat ngopi kita kembali menjadi manusia. 

Dikala banyak waktu kita tersita untuk sekadar sibuk dengan layar gawai, di warung kopi kami kembali menjadi manusia. Banyak perbincangan dari yang receh sampai yang penting soal kehidupan, nasib, asmara, dan segala macamnya yang tertuang begitu saja diantara kita, dan itu melegakan. 

Di warung kopi kita saling berkeluh-kesah, meluangkan kegembiraan maupun kesedihan, bercanda-gurau, dan yang terpenting memainkan kartu remi bersama dengan bumbu sedikit umpatan yang nirfaedah—jangan ditiru.

Problem kehidupan yang menyebabkan pikiran yang menumpuk memang laiknya racun. Sepertinya membaginya dengan teman atau orang-orang terdekat bisa menjadi suatu solusi agar pikiran kita tidak overload. Memang tidak serta merta membuat semua problem langsung terselesaikan seketika, tetapi bisa membuat lebih plong. 

Acara ngopi malam itu akhirnya juga kami isi dengan permainan poker dengan kartu remi. Segala kesah agaknya juga luntur dibalik kartu-kartu remi dan simbol-simbol serta angka hitam-merahnya. Menjadikan kami manusia yang utuh kembali, dengan sedikit pasokan semangat untuk kembali siap diombang-ambingkan kehidupan.

Maaf jika meme-nya misused (baru belajar buat meme) wkwkwk

*Acara ngopi-ngopi ini kami lakukan sebelum wabah Covid 19 merebak sampai Indonesia, eh sudah tapi belum ada himbauan untuk Social Distancing. Kalau sekarang lebih baik #dirumahaja, ya!

Belum ada Komentar untuk "Apa yang Membuat Kita Tetap Menjadi Manusia?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel