Di Rumah Aja


Saya tidak tahu harus mengawai celoteh ini bagaimana. Maka saya awali saja celoteh ini dengan ungkapan bahwa saya tidak tahu harus mengawali celoteh ini bagaimana.
Himbauan untuk tetap di rumah aja akibat Pandemi Corona agaknya telah menghidupkan kembali kejayaan era Renaissance, dimana semua orang bisa menjadi seniman yang menelurkan seni versinya sendiri lantaran kegabutan. Saya menemui banyak kreasi video-video pendek kocak yang bersliweran di media sosial, meme kocak tentang isu-isu terkini yang tentu saja tidak misused, dan banyak yang lainnya. Bahkan teman-teman saya di WAG kelas ada yang dengan kreatifnya membuat video editan yang membikin perut teman-temannya yang lain kaku karena terpingkal-pingkal.
Orang-orang zaman sekarang amat pandai memang menyiasati sepi yang berupa kegabutan. Andai Pak Chairil Anwar tahu bahwa sepi tak bisa mengoyak-oyak kami hehe...
Gerakan di rumah aja saya rasa-rasa juga membuat kebanyakan dari kita berkontemplasi dalam banyak waktu selama sehari. Seharian yang kita lalui laksana tengah malam dan insomnia yang memunculkan jubel-jubel midnight tought.

Karena sejak awal membuat tulisan ini saya sudah dirasuki kebingungan untuk menulis apa, maka dari itu saya akan menulis apa saja yang berjubel di kepala saya laksana midnight tought ini di sini—yang saya ingat. Hahahahahaha....

Yang jelas, sejak stay di rumah aja saya mulai kepikiran bagaimana akhirnya WHO kepikiran untuk mengubah social distancing menjadi phisical distancing. Pasti mereka kepikiran untuk mengubah itu saat social distancing di rumah, dan sekarang mereka tidak social distancing lagi karena telah diubah menjadi phisical distancing. Namun, mereka tetap di rumah karena phisical distancing. Dan menganjurkan itu kepada kita semua.

Istilah-istilah asing (jarang terdengar sebelumnya) semacam di atas kemudian juga dimunculkan di negeri Indonesia ini, tetapi rasa-rasanya malah nampak terlampau birokratis dan terasa jauh dari telinga kalangan akar rumput. Sebut saja seperti Lockdown dan karantina yang definisinya memusingkan. Ada yang mengatakan keduanya sama, ada yang bilang berbeda, sampai diperdebatkan secara sengit. Belum lagi sedikit kerecokan di level pemerintahan, gaung akan adanya darurat sipil, ancaman resesi, dan lain sebagainya.

Alih-alih dibingungkan dengan ganasnya persebaran Covid 19, kebanyakan dari kita sudah terlampau dibikin bingung dengan definisi istilah-istilah di atas. Yang terjadi selanjutnya adalah seperti yang dikatakan mas Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya, bahwa kita tak bisa secara totalitas memilih salah satu antara Menghindari Kematian, atau Melanjutkan Kehidupan dalam bayang-bayang ancaman pandemi ini.

Hambuh lah, Semoga kita semua adalah Survivor.

Hari-hari ini kemudian saya rasai seperti dalam film Resident Evil dari sudut pandang kita sendiri-sendiri sebagai masyarakat sipil. Jadi seperti inilah gambaran kalangkabutnya orang-orang dalam film itu memerangi T-Virus. Saya jadi membayangkan, di sudut pandang lain dari lakon hidup kita ini, mungkin juga ada Alice yang sedang mati-matian untuk menghentikan penyebaran wabah ini. Ia barangkali sedang mencoba masuk ke Hive dengan bantuan Red Queen untuk mengambil antivirus biologi yang ketika dilepas ke udara akan menetralkan semua secara perlahan. (Maaf kelewat halu)

Atau jangan-jangan adanya wabah ini karena Bumi memang sedang bersih-bersih. Barangkali ia ingin terlihat bersih di hari Bumi 22 April mendatang—harinya—(?).

Dari foto-foto satelit NASA yang beredar di media sosial dan media pemberitaan, menunjukkan pengurangan drastis tingkat polutan di udara. Kepada BBC, para Peneliti di New York mengatakan bahwa dari hasil penelitian awal mereka, karbon monoksida—terutama dari mobil—telah berkurang hampir 50% dibandingkan dengan tahun lalu.


Sebagaimana dilansir dari laman BBC, Jumat (20/3/2020), emisi gas CO2 yang membuat planet ini panas juga telah turun secara tajam. Namun ada peringatan, bahwa nanti bisa naik dengan cepat setelah pandemi berakhir (liputan6.com).
Harapannya sih semoga pandeminya yang cepat berakhir, sedang penurunan karbon monoksida tak usah berakhir.
Jika saja Bumi sedang ingin bersih-bersih menjelang harinya, semoga pada harinya itu, semua wabah ini selesai, dan Ramadan yang akan jatuh pada sehari/dua hari setelahnya berjalan seperti yang diharapkan banyak orang.

Udah, gitu aja.

2 Komentar untuk "Di Rumah Aja"

  1. Semoga lah Mas, pada hari Bumi nanti wabah ini beneran menghilang.
    Udah terlalu banyak memakan korban soalnya.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel