Joko Towo

Tidak akan ada Joko Towo, itu yang saya tangkap dari line telepon.


Bapak bercerita soal kondisi kelam tahun 98, krisis ekonomi waktu itu, dan munculnya Lintang Kemukus berturut-turut yang menyertainya sampai beberapa bulan.


Ah maaf, Bapak bukan bercerita. Waktu itu ia hanya bernostalgia bersama pak S ketika sama-sama menjenguk tetangga yang sakit di rumahnya. Dengan asyik Bapak dan pak S bercerita soal yang mereka alami lebih dari 2 dekade silam. Sedangkan saya terus membaca pembicaraan mereka, serta menggaris bawahi soal Lintang Kemukus.


"Biasannya tanda akan datangnya "pagebluk" seperti itu le, muncul Lintang Kemukus," terang bapak waktu itu.


Bapak juga menceritakan bahwa di akhir tahun-tahun kelam waktu itu, muncul pula Joko Towo, yang menurut bapak adalah penawar Lintang Kemukus.


"Joko Towo itu juga Lintang yang mencorong le," tambah bapak.


Bapak tidak secara jelas memberi tahu ciri-ciri dan perbedaan antara Lintang Kemukus dan Joko Towo, atau memang itu tidak bisa dijelaskan sekadar dengan kata-kata. Namun yang saya pahami dari cerita bapak adalah, bahwa kamu akan tahu belaka bahwa itu Lintang Kemukus atau Joko Towo ketika pertama kali melihatnya.


Tidak akan ada Joko Towo, itu yang saya tangkap dari line telepon.


"Tapi tidak ada Lintang Kemukus menjelang pandemi ini le," ujar bapak menjawab pertanyaan basa-basi saya soal kapan Joko Towo segera datang dan pandemi segera hilang.


Sejak beberapa menit lalu, melalui line telepon kami saling melebur kangen, bertukar kabar, berbagi semangat, dan menyepakati bahwa kemungkinan akan sedikit lama berjarak. Kenyataan yang menjengahkan fisik dan pikiran sekejap hilang ketika kami bercakap via line telepon.


"Pandemi kali ini mungkin dampaknya bakalan membuat resesi ekonomi yang lebih mengerikan ketimbang tahun 98 pak, jadi kita kudu tetap waspada dan siap-siap!"


"Kalau kami yang di desa ya tidak terlalu kerasa le," timpal bapak dengan santainya.


"Iya sih pak, tapi masalahnya ini pandemi global. Kalau resesi, ya bakalan resesi global. Untuk pulih tentu membutuhkan waktu yang lebih lama."

"Yo, semoga diberikan keselamatan semuanya anak-anakku, seluruh keluarga dan kerabatku, bangsa kita."

Ada harap yang dalam dari kata-kata bapak yang bergelombang meruap dari sana, walaupun ia nampak tak lagi berharap akan ada Joko Towo seperti dua dekade silam.


"Nanam ketela, ubi, dan palawija lainnya sepertinya bagus pak buat antisipasi kalau-kalau harga bahan pokok melonjak".


"Iya le, ini bapak juga mulai nanam-nanam ketela dan Talas".


Pembicaraan terus mengalir hingga beberapa saat sampai kami mengakhiri ritual pembicaraan daring tersebut. Sejurus kemudian saya termenung di tempat dan bergumam dalam hati, memastikan yang saya pahami setelah berbicara dengan bapak, bahwa tidak akan ada Joko Towo.


"Tidak akan ada Joko Towo," ujar saya kemudian dengan lirih.


Joko Towo adalah lintang mencorong tanda penawar setelah adanya bala

Joko Towo adalah lintang mencorong

Joko towo adalah lintang

Joko Towo adalah

Joko Towo

Gumamku....


3 Komentar untuk "Joko Towo"

  1. Meresapi postingan ini aku mencoba menyarikan sekaligus menganalogikan bahwa lintang kemukus = pagebluk, joko towo = penawarnya, mungkin dalam hal ini sebentar lagi akan ada antivirusnya ya yaitu vaksin yang tengah dalam masa R n D pihak2 yang berkompeten meneliti dan mengembangkan. Memang kalau membayangkan dampak resesinya yang mengglobal ini, kita seakan harus ada serep2 untuk penghidupan jangka panjang, salah satunya ya dengan cepalango nanem bahan pangan yang diprediksikan bakal susah didapat karena efek pandemi :)

    BalasHapus
  2. Kayaknya bapak itu teman ngobrol yg asik. Obrolannya santai tapi berkualitas menurutku. Saling memberi saran dan menanggapi.

    BalasHapus
  3. Walau tak ada Joko Towo, tapi semoga aja pandemi ini segera berlalu dan vaksinnya segera didapatkan.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel